Terbukti kan?
Oleh : Retnoo
Sesekali aku masih saja menghirup panjang udara siang ini, rasanya aku amat lelah. Seharian menghabiskan waktu di dalam kelas membuatku jenuh dan menginginkan suasana penyegaran. Karna itu siang ini aku putuskan untuk pulang bersama Pra. Pasalnya aku lama tak menghabiskan waktu bersama teman baikku ini karna lokasi kelas yang berjauhan. Dan kini dia mengajakku menikmati ice cream di tempat yang baru dibangun di samping sekolahku itu. Dan kamipun segera meninggalkan lahan sekolah dan pergi ke sana.
Sesampainya di tempat yang banyak dikunjungi bukan hanya siswa dari sekolahku saja itu, kamipun segera masuk dan segera mencari tempat duduk. Dan Tak sengaja ketika melihat- lihat pemandangan di dalam toko ice cream itu, aku melihat sosok remaja laki- laki yang bertubuh agak tinggi dan menggunakan seragam SMA tetangga sekolahku itu berjalan keluar dan menggandeng seorang gadis berambut panjang. Ya benar, remaja itu Rio, remaja yang sempat mengisi hatiku beberapa waktu lalu . Dan kami putus lusa akibat fitnah yang dilontarkan Laura, teman satu sekolahnya. Seketika itu pun Rio tak mau mendengarkanku lagi dan pergi begitu saja. Hingga saat ini aku masih saja membenci Laura, sempat aku ceritakan semua ini pada Pra, namun dia terus meredam kemarahanku pada Laura.
“Kenapa Ra?” tanaya Pra tiba-tiba. “Ngeliatin Rio ya?’’ Tanyanya lagi. Sejenak aku tertegun, dan mengeluarkan senyum terpakasa.
“Cepat dimakan geh icenya!’’ pinta Pra padaku. Akupun hanya mengangguk dan mengeluarkan senyum seadanya. Namun, setelah melihat sosok Rio tadi, napsu makanku sedikit berkurang. Kini difikaranku mulai terlintas Rio kembali yang sebelumnya sudah mulai menghilang.
“Kenapa nggak dihabisin? Keinget Rio?” Suara Prapun dengan jelas menyelinap di telingaku. Akupun segera mengangkat kepala dan memandangnya. Sesekali aku berusaha menghirup nafas panjang berusaha menahan diri. Dan kali ini aku tak bisa berkata apa-apa tak seperti biasanya yang tak pernah kehabisan kata-kata.
“Udah dong Era! Lupakan dia!” Jelas Pra berbisik padaku.
Tak sepeti biasanya, pulang sekolah kali ini, aku langsung menuju rumah bersama Pra. Dia bilang ingin sekali bertemu dengan ibuku, pasalnya Pra sudah lama tak bejumpa dengan orang tua yang dianggapnya sebagai ibu sendiri itu. Dan setibanya di rumah, akupun mengajak Pra bersandar di sofa ruang tamuku. Namun, kali ini rumahku terlihat sepi. hanya kutemui mbok Surti, orang yang sudah lama bekerja membantu ibuku, sementara ayahku sendiri telah berangkat ke Surabaya beberapa hari lalu.
“Mbok, mama kemana ya kok sepi?” tanyaku mendekati mbok surti yang saat ini berada di ruang tengah.
“ibu ini tadi katanya ke rumah tante Evi mbak.” Jelasnya dengan kembut . mendengar itupun aku segera kembali ke ruang tamu menjumpai Pra.
“ Tante Nuri mana?” Tanya Pra.
“Hmm.. bukan hari baikmu ternyata Pra, mama kata mbok surti pergi ke rumah tante Evi ini tadi.’’ Jelasku kecewa.
“padahal aku kangen banget sama tante.” Keluhnya. Akupun hanya tertawa mendengar lelucon dari temanku ini.
“Oh iya Ra, ada yang mau kuomongin ke kamu.” Ucap Pra perlahan.
“Apa?” Tanyaku penasaran.
“E… Sebenarnya, aku udah punya pacar Ra.”Ucapnya. Dan kata-kata itu cukup membuatku berhenti bernafas. Apa? Pra memiliki pacar? Namun, biarlah kucoba tenang.
“Ih.. dasar jadian nggak bilang-bilang. Sama siapa?” Godaku menahan rasa sakit.
“Sa…sama Laura.” Suara itu terdengar jelas di telingaku. Apa? Laura? Gadis yang sudah merusak hubunganku dengan Rio? Dan kini dia telah menjalin hubungan dengan Pra?
“Apa? Laura?aku salah dengarkan?” tanyaku tak percaya.
“Ng..nggak, kamu nggak salah dengar Ra, aku minta maaf Ra!”Ucapnya, dan kini rasa marah, emosi, mulai bercampur aduk dalam darahku. Rasanya aku ingin berteriak dan menangis.
“Sejak kapan kamu jadian sama dia? Udah berapa hari?”Tanyaku kali ini, dengan emosi yang amat menggebu-gebu.
“Satu bulan Ra.” Jawab Pra penuh kejujuran. Dan ini semakin membuatku sakit. “Ra, aku beneran minta maaf.”
“Apa? Satu bulan? kenapa kamu baru cerita sekarang?” Rasanya kali ini dadaku ditindihi beban berton-ton, amat berat dan sesak. Aku hanya bisa terdiam menahan rasa sakit, dan kecewa. Hatiku berteriak perih menahan sakit. Matakupun mulai memerah, jantungkupun semakin cepat brdetak berharap semua ini hanya mimpi buruk yang menimpaku.
“Aku minta maaf Ra! Aku mohon!” jelasnya dengan muka bersalah.
“Cukup Pra, kamu udah bohongin aku .” ucapku dengan nada kecewa menahan air mata yang dari tadi aku tahan.
“Ra, dengerin penjelasanku dulu.” Kini tangannya mulai meraihku. Namun aku langsung saja menjauh darinya. Aku amat tepuruk, seseorang yang aku anggap sebaigai saudara, juga sahabat yang menjadi penenangku dikala aq kebingungan, menjadi penghibur hatiku dikala aku merasa sedih, juga sebagai teman bermainku disaat aku merasa kesepian kini malah membunuh perasaanku. Aku kesakitan, rasanya sulit untuk menerima kenyataan yang pahit ini.
Hari minggu ini, sengaja aku habiskan liburanku bersama ibuku ke pantai. Aku rasa suasana pantai amat aku butuhkan. Tepatnya di salah satu kafe di sekitar tempat wisata ini, kami beristirahat. Dan tak sengaja, kami bertemu dengan Pra dan ibunya. Merekapun bergabung satu meja dengan kami. Aku sempat melarang ibuku memanggil mereka, dan mengajak satu meja dengan kami. Namun, ibuku tetap memaksa. Saat inin saja aku masih merasa sakit dengan perlakuan Pra yang disembunyikan sesuatu padaku selama ini. Akupun hanya terdiam dengan kedatangan si Pra.
“kok dari tadi diam aja sih kalian berdua?nggak kayak biasanya.” Goda ibuku melihat reaksi kami yang dari tadi lebih menutup mulut. Aku tak mau ibuku tahu masalahku dengan Pra. Akupun hanya mengeluarkan senyum kecut.
“Ma, tante, Era keluar dulu ya? Ingin main pasir.” Ucapku merasa jenuh di dalam kafe.
“jangan sendirian Lho, nanti ada apa-apa.” Jelas ibuku sedikit khawatir.
“Pra, temenin Era geh!” pinta ibu Pra.
Aduh… kenapa dia harus mengikutiku? Akupun, kini mulai keluar menyusuri kafe. Sampai di luar kafepun aku tetap tak mengeluarkan sepatah kata pada remaja ini. Aku terus berjalan ke tepi pantai hingga kurasakan ketenangan pantai ini. Memang tak terlihat banyak orang di sini, hanya ada beberapa saja, itupun sedang menikmati urusan masing- masing, ada yang hanya terdiam, bermain pasir, juga bermain volley. Benar- benar tempat yang cocok untuk menenangkan pikiran.
“Ra, masih marah ya sama aku?” tiba-tiba Pra mengeluarkan pertanyaan itu. Sejenak aku mulai terdiam seolah tak mendengarkannya.
“Ra aku bener-bener minta maaf!” ucapnya dengan nada memohon. Akupun sesegera menghentikan langkah dan menatap Pra tajam.
“Pra, kamu nggak tahu perasaanku.” Bentakku. Kini kulihat Pra mulai menunduk dan terdiam. “kamu selama ini udah bohongin aku.”
“Ra, bukan maksutku bohongin kamu selama ini, tapi…’’
“tapi apa? Sudah cukup Pra, selama ini apa kamu anggap aku sampah? Aku benar- benar kecewa sama kamu.’’ Jelasku dengan nada amat kecewa.
“Ra, dengerin aku! Aku emang salah, kamu bisa hukum aku apa aja asal kamu mau maafin aku Ra, aku mohon!” Ucapnya memohon. “semalaman aku nggak bisa tidur Ra, aku takut sama Rasa salahku ke kamu Ra. Aku mohon maafin aku! Kamu bisa menuntut apapun dariku Ra, asalkan kamu mau maafin aku! Aku mohon!”
Akupun mulai terdiam sejenak mendengar perkataan Pra.
“huft, baiklah aku bakal maafin kamu.” Jawabku sembari menarik nafas panjang.
“beneran Ra?” tanyanya girang sambil menggoyang-goyang bahuku.
“tapi..” ucapku tak melanjutkan kata yang ada dalam hatiku. Jujur hati kecilku tak bisa membencinya, aku sebenarnya tak bisa melakukan semua ini padanya, melontarkan kesalahan ini kepadanya. Benar- benar jauh dari sikapku yang sebenarnya.
“tapi apa? Ayo katakanan!”
“kamu harus ninggalin Laura.” Jawabku ketus.
“apa? Ninggalin Laura? Apa nggak ada syarat lain Ra?” keluhnya.
Aku hanya menggelangkan kepala, mungkin keputusanku ini memang salah, tapi aku tak tahan bila harus melihat Pra harus berjalan bersama Laura. Entah itu karna Laura telah menfitnahku atau karna perasaan lain, aku kurang tahu.
“kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa kok. Aku nggak maksa. Asal kamu tahu aja Pra, aku nggak apa-apa kamu pacaran sama yang lain , tapi nggak untuk kali ini.” jelasku jujur meskipun berat. Ya Tuhan, apa yang baru kukatakan pada sahabatku itu?
Dan kini mulai kulihat seorang gadis berjalan menghampiri kami. Dia berbadan mungil, berkulit kuning, dan menggunakan kacamata. Ya, siapa lagi kalau bukan si Laura? Benar ini Laura.
“itu pacar kamu kan?” tanyaku pada Pra.” Dihampiri donk!” pintaku sambil berjalan meninggalkan remaja laki-laki itu.
“Ra!” serunya padaku, namun tetap saja tak kuhiraukan. Aku teramat sakit kali ini. Pra remaja laki- laki yang telah membuatku tersenyum dikala aku kehilangan Rio, kini malah lebih memilih gadis itu ketimbang harus bermain bersamaku lagi, sungguh di luar dugaanku.
“Pra!” panggil Laura pada kekasihnya itu. Akupun mulai berhenti setelah tiba di dermaga yang tak jauh dari mereka, aku berusaha menikmati angin pantai dan tak ingin melihat kebersamaan yang ditunjukkan si Laura dan Pra. Tapi aku merasa kali ini mereka berdua berjalan mendekatku. Ya, benar mereka malah berhenti tepat di sampingku. Anehnya saat ini aku tak bisa berlari menghindari mereka. Aku tak mau kalah, parahnya, Laura malah mengajakku berbicara.
“kamu di sini juga ya?” suara manja itu keluar dari mulut Laura. Akupun hanya tersenyum kecut tanpa memandang kearah gadis itu. Aku tahu kali ini aku salah, tapi aku aku terlampau benci padanya.
“Era tadi liburan ke sini sama mamanya, trus ketemu aku.” Jawab Pra salah tingkah.
“udah tahu aku berdiri di sini masih nanya lagi. Lagian aku nggak napsu liburan kalau ternyata ada manusia perusak di dekatku.” Jelasku sinis dengan nada meninggi. Aku terpaksa berkata sekasar ini pada gadis yang telah membuatku menangis beberapa waktu lalu ini. kini amarahku telah memuncak, aku tak bisa berfikir panjang lagi hanya ingatanku tentang pertengkaranku dengan Laura mengenai Rio beberapa waktu lalu yang saat ini terselubuh pahit di otakku. Tapi sebisa mungkin aku berusaha tenang.
“Era ngomong apa sih kamu?” bentak Pra padaku. Akupun sempat kaget, baru kali ini Pra membentakku gara-gara masalah gadis seperti ini.
“sayang, dia jahat banget sih?”adu Laura pada Pra. “Dia sering banget jelek-jelekin aku.”
Apa? Apa yang telah dikatakannya satu persen pun, tak benar adanya. Strategi apa lagi yang dibuat gadis bermuka 2 ini? dan kali ini benar-benar membuatku marah.
“heh, mulut tu dijaga dong!kamu pinter banget ya kalau fitnah orang?” ucapku dengan emosi.
“Era, kamu masih dendam ya sama aku gara-gara permasalahan kemarin dengan Rio? Sampai kamu kayak gini ke aku?” tanyanya dengan nada memanja. Sempurna, gadis ini membuat Pra marah padaku. “kamukan kemarin yang fitnah aku dihadapan Rio?sampai akhirnya dia tahu, dan ninggalin kamu?”apa yang dikatakan seolah-olah benar.
“Heh, yang harusnya dijaga tu mulutmu tu. Mulut busuk.” Jelasku dengan nada tinggi.
“Era! Cukup!” bentak Pra yang kesekian kalinya padaku, dan kali ini dia terlihat amat marah. Bahkan kulihat, Laura malah menangis. Strategi apa lagi yang sedang dipentaskan gadis ini? aku benar- benar bingung dengan ucapannya yang telah membolak- balikkan fakta.
Sentakan yang keluar dari mulut Pra kini cukup membuatku tertusuk. Rasanya seluruh tubuhku mulai bergetar, air mata ini tak bisa lagi ku bendung, akupun segera berlari menjauh dari mereka, rasanya hatiku benar-benar pecah berkeping- keping, bahkan seluruh tulangku seakan-akan patah terbentur benda keras, aku sungguh tak percaya kenyataan ini kuterima. Pra yang selama ini kukenal dingin namun lembut tiba- tiba berubah menjadi kasar dan tak peduli dengan orang sekitarnya. Aku amat kecewa padanya. Kini langkahku muai tak terarah, kakiku serasa lemas, inginku melepaskan diri ke dalam air laut di sekelilingku ini, namun apa daya keinginan bodohku iku masih didengar fikiran baikku. Hingga akhirnya aku hanya bisa berlari menjauhi kedua remaja itu.
Tak sadar ternyata aku berpapasan dengan Doni teman sekelasku. Dia menjumpaiku.
“Hey Ra, kenapa kamu?’’ Tanya Doni dengan wajah sedikit bingung.
Namun aku hanya bisa diam, tak menjawab pertanyaan dari Doni, aku nampak seperti orang tolol yang tak mengetahui apa-apa yang sedang terjadi padaku.
Doni masih terlihat bingung dengan keadaanku.
“Ra, kamu nggak apa-apa kan?’’ tanyanya meyakinkan. Masih dengan muka tak mengerti karna tak kujawab beberapa pertanyan darinya, Doni mulai melirik kearah sekitarku, hingga pandangannya jatuh pada Laura dan Pra yang tak terlalu jauh dariku. Akupun malah melanjutkan langkahku dengan air mata yang sempat berhenti beberapa saat ini dan segera berlari menjahui Doni. Donipun masih diam dan memanggilku lirih, tapi tak kuhiraukan panggilannya. Nampaknya remaja laki-laki itu kini mulai menjumpai Laura dan Pra. Entah aku tak mengetahui benar yang terjadi, namun sempat kutengokkan leherku kearah mereka, pertengkaran sedang terjadi diantara ketiga remaja itu. Donipun mulai mengeluarkan kata keras-keras. Hingga tiba- tiba saja tangan Doni melayang memberikan pukulan kearah tubuh si Pra. Akupun terkejut dan berteriak memanggil nama Pra,bahkan sempat tak percaya, namun itu benar- benar kulihat, hingga beberapa kali pukulan keras itu diberikn ke tubuh Pra, aku masih saja bingung. Tubuhku bertambah lemas, sampai akhirnya Prapun membalas pukulan itu. Kelihatannya Doni amat marah, sementara si Laura masih berusaha menahan aksi Doni yang keterlaluan itu. Melihat kejadian itupun aku segera membelokkan arah, aku segera berlari menjumpai mereka. Aku tak kuasa melihat keadaan Pra, tanpa peduli kucepatkan langkah lariku.
“Bruk” hantaman benda berbentuk bola itu tiba-tiba mengenai kepalaku. Seketika aku terjatuh dan pandanganku mulai buram. Setelah itu, aku tak tahu apa-apa yang terjadi padaku.
“Ra, bangun Ra!” seru Ibuku sambil menepuk-neouk pipiku.
Kini mulai kubuka mataku, sesekali masih kupejamkan dan kubuka lagi. Yang kuingat terakhir kali aku dihantam bola dan, kini aku telah berada di kamarku.
“syukurlah kamu udah bangun Ra.” Ucap Ibuku sembarari tersenyum padaku. Ibuku kini terlihat senang. “Kamu tadi kena bola di pantai” Jelas ibuku.
“Pra? Pra?’’ suaraku mulai mucul pelan- pelan. “mana Pra?’’ Tanyaku lemas masih bingung. Setelah meneguk air putih yang disodorkan Ibuku, aku berusaha mengangkat tubuhku dan mencari posisi duduk.
“iya Ra, ini aku di sini.’’ Jelas Pra ambil tersenyum padaku.
“Pra, kamu nggak kenapa- kenapa kan?” tanyaku bingung sambil sesekali memegang kepalaku karna pusing yang masih kurasa.
“Iya Ra, aku nggak apa- apa, kamu jangan banyak gerak dulu!’’ pintanya.
“bentar, Mama tinggal dulu ya? Anak- anak, tolong jagain Era dulu ya! Tante mau ngambilin minumnya Era di belakang.” Pinta ibuku sambil meningalkan kami.
“iya Te.” Jawab Pra. “hati-hati Ra!” ucap Pra sambil membantuku. “Ra, aku minta maaf!” jelasnya dengan nada yang amat memohon. “aku janji nggak bakal nyia-nyiain kamu lagi. Nggak akan.”
Aku masih terdiam sembari mencari diriku seratus persen.
“kamu nggak apa- apa kan Pra?’’ masih pertanyaan itu yang aku lontarkan, otakku belum sepenuhnya ingin menjawab permintaan maaf dari Pra. Aku masih bingung, menghawatirkan keadaan Pra mengingat kejadian dipantai itu.
“Ra, dengarkan aku!” sambil menatapku dalam- dalam dan memegangi kedua bahuku. “aku enggak kenapa- napa beneran.’’ Kini dia mulai memelukku. Akupun hanya bisa diam dan mengeluarkan air mata.
“aku minta maaf.” Jelasnya lagi sungguh- sungguh.
“aku udah maafin kamu Pra, aku nggak mau kamu kenapa- kenapa. Kamu nggak apa- apa kan?’’ tanyaku lagi mencari kepastian.
“Era, aku enggak kenapa- kenapa.’’ Jelasnya memastian, sembari menghirup nafas panjang.
“tapi bibirmu?’’ tanyaku ketika melihat luka merah di samping mulut Pra. Prapun hanya diam dan trsenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“aku sempat meliha Doni memukulmu.’’ Ucapku lirih.
“iya, Laura ternyata selingkuh sama Doni temen sekelasmu.” Jelasnya menyesal. “Doni ngira aku merebut Laura Ra.”
“apa? Pacaran sama Doni? Jadi Laura udah ngrebut Doni dari Lala juga?” tanyaku terkejut. Dan kini kulihat Pra hanya menganggukkan kepala. “Ya Tuhan… Lalu bagaimana dengan Doni?’’
“udah nggak apa- apa, semuanya udah terbongkar, udah jelas.’’ Jawabnya tersenyum. Dan akupun menghirup nafas panjang, sedikit lega.
“iya, aku sadar, aku minta maaf banget, apapun hukuman dari kamu aku akan terima Ra.” pintanya
Sejenak aku terdiam dan berusaha berkata. “aku maafin kamu pra.”
“benarkah Ra? Syarat apa lagi yang harus aku penuhi Ra?” tanyanya gembira.
“iya Pra, syaratnya…kamu sadar aja udah cukup.” Ucapku sembari tersenyum. “kamu ngak kenapa- kenapa aja aku udah seneng.’’
“beneran Ra? Tapi kan aku salah, aku siap nrima hukuman apa aja dari kamu.’’ Pintanya lagi.
“udah Pra.” Jawabku tegas sambil tersenyum.
“hmm.. makasih Ra, aku nggak bakal ninggalin kamu.” Lanjutnya. “aku sayang kamu Ra.” Tiba-tiba.
Aku sempat tertegun. “maksudmu?”
“aku sadar, ternyata orang yang slama ini aku cari adalah kamu Ra.” Ucapnya pelan. ‘‘Ternyata aku nggak bisa kalau nggak sama-sama kamu. Semalam aku bingung waktu kamu nggak mau maafin aku, aku juga ngrasa kesepian kalau kamu nggak ada.” Jelasnya panjang lebar. “maukah kamu jadi cewek aku Ra?” dan mulai memegangi tanganku.” Perasaanku selama ini salat ternyata, aku sayang kamu ra, aku cinta kamu.”
Akupun hanya tersenyum dan menganggukkan kepala meski sedikit agak lemas. Ternyata tak dapat kupungkiri, aku juga memiliki perasaan yang sama terhadap Pra, hatiku sakit ketika kemarin dia mengatakan telah menjalin hubungan dengan laura. Dan kini Prapun tersenyum dan mulai mendekapku kepelukannya.